RESUME
EPISTEMOLOGI FILSAFAT ILMU
PINTU
1: PENGETAHUAN,ILMU
PENGETAHUAN,dan FILSAFAT ILMU
Menurut Limas Dodi, Filsafat Ilmu merupakan telaah kefilsafatan yang ingin menjawab pertanyaan
mengenai hakikat ilmu, yang ditinjau dari segi ontologis maupun aksiologisnya.
Suatu nilai belum tentu ilmu, tetapi ilmu itu bernilai. Sesuatu dikatakan ilmu
apabila mempunyai syarat-syarat empiris (dapat diterima panca indera),
sistematis, objektif, dapat dianalisis dan verifikatif.
Penemuan kebenaran : kebenaran ilmiah harus ada rasa
sulit, dapat mendefinisikan apa yang sedang dipikirkan, membangun rekaan
pemecahan, mencari bukti, dan menarik kesimpulan.
Filsafat
ilmu pada prinsipnya memiliki dua obyek substantif (fakta dan kebenaran) dan dua obyek instrumentatif (konfirmasi dan
logika). Sedangkan ruang lingkup filsafat ilmu ada dua yaitu
objek material dan objek formal.
PINTU II : Sistematika
Filsafat
A. Epistemologi
Epistemologi
adalah suatu teori pengetahuan yang membahas berbagai segi pengetahuan seperti:
kemungkinan, asal mula, sifat alami, batas-batas, asumsi, dan
landasan,validitas,dan reliabilitas,sampai pada soal kebenaran.
M.
Arifin merinci ruang lingkup epistemologi, meliputi hakekat,sumber, dan
validitas pengetahuan.epistemologi dibedakan menjadi tiga yaitu: pertama,epistemologi metafisis yaitu
epistemologi yang mendekati gejala pengetahuan dengan bertitik tolak dari
pengandaian metafisis tertentu. Kedua epistemologi skeptis, perlu membuktikan apa
yang diketahui sebagai sunguh nyata atau benar-benar tak dapat diragukan lagi
dengan menganggap sebagai tidak nyata atau keliru segala sesuatu yang
kebenarannya masih dapat diragukan. Ketiga, epistemologi
kritis yaitu berangkat dari asumsi,prsedur, dan
kesimpulan pemikiran akal sehat.lalu kita coba tanggapi secara kritis
asumsi,prosedur, dan kesimpulan tersebut.
B. Ontologi
Ontologi artinya hakikat sesuatu,jadi ontologi
adalah pemikiran mengenai yang ada dan keberadaan. Beberapa aliran-aliran dalam
Ontologi, yaitu: Ontologi yang bersahaja, Ontologi kualitatif dan kuantitatif, Ontologi
monistik. Ontologi berdasarkan cara menyelesaikan permasalahan
yang dihadapi sebagai berikut: Naturalisme, Materialisme,
Idealisme, Dualisme, Agnotisisme.
C. Aksiologi
Aksiologi adalah kegunaan ilmu
pengetahuan bagi kehidupan manusia, kajian tentang nilai-nilai khususnya etika.
Menurut Bramel
dalam Amsal, Aksiologi terbagi tiga bagian, yaitu: Moral Conduct, Estetic
Expression, Socio-Political life.
Nilai
itu bersifat obyektif,tapi kadang bersifat subyektif.dikatakan obyektif
jika,nilai tidak tergantung pada pad subyek atau kesadaran yang
menilai.kebenaran tidak tidak tergantung pada kebenaran individu tetapi pada
obyektivitas fakta.nilai menjadi subyektif apabila,subyek berperan dalam
memberi penilaian,kesadaran manusia menjadi tolak ukur penilaian.
PINTU III : Rasionalisme,Empirisme dan Kritisisme
A. Rasionalisme
Menyatakan
bahwa akal adalah dasar kepastian pengetahuan.pengetahuan yang benar diperoleh
dan diukur dengan akal.para penganur rasionalisme percaya bahwa kebenaran dan
kesesatan terletak dalam ide dan bukannya di dalam diri barang sesuatu. Aliran
Rasionalisme berpendapat bahwa,sumber pengetahuan yang mencukupi dan dapat
dipercaya adalah rasio (akal).Tokoh-tokoh filsafat Rasionalisme diantaranya: Rene
Descartes (1596-1650), Gootfried Eihelm
Von Leibniz, Blaise Pascal (1623-1662 M), dan Spinoza
(1632-1677).
B. Empirisme
Empirisme
adalah pengalaman inderawi,John Locke (1632-1704) mengemukakan teori tabula
rasa.maksudnya manusia kosong dari pengetahuan dan yang mengisi adalah
pengalaman.sumber penetahuan adalah pengamatan,pengamatan memberikan dua
hal,yaitu:kesan-kesan dan ide-ide(gambaran kesan).Tokoh aliran Empiris antara
lain: Francis Bacon (1210-1292M), Thommas
Hobbes (1588-1679 M), John Locke (1632-1704 M),David Hume (1711-1776 M),Herbert
Spencer (1820-1903 M).
C. Kritisisme
Kritisisme
adalah filsafat yang di introdusir oleh Immanuel Kant,pertentangan antara
rasionalisme dan empirisme dicoba untuk diselesaikan oleh Kant dengan
Kritisisme.
1.
Kritik
terhadap rasionalisme: kritik atas rasio murni, kritik atas rasio praktis,
kritik atas daya pertimbangan.
2.
Kritik
terhadap empirisme: empirisme didasarkan pada pengalaman.
3.
Kombinasi
antara rasionalisme dan empirisme: ilmu pada dasarnya adalah metode
induktif-empiris dalam memperleh pengetahuan.
Pintu IV : Metodologi
ilmu pengetahuan
Metode
adalah cara-cara penyelidikan bersifat keilmuan, yang sering disebut metode
ilmiah (science methods). Metode ini perlu, agar tujuan keilmuan yang
berupa kebenaran objektif dan dapat dibuktikan bisa tercapai. Pengetahuan adalah
suatu pemikiran yang dapat diketahui langsung dari pengalaman berdasarkan panca
indera, pengetahuan memerlukan bukti yang ilmiah untuk pembuktiannya. Sedangkan
metodologi adalah pengkajian mengenai model atau bentuk metode-metode,
aturan-aturan yang harus dipakai dalam kegiatan ilmu pengetahuan. Jika
dibandingkan antara metode dan metodologi, maka metodologi lebih bersifat umum
dan metode lebih bersifat khusus.
Beberapa metode yang
digunakan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan adalah metode observasi, metode trial
and error, metode eksperimen, metode statistic, dan metode sampling. Dengan metode
ilmiah akan diperoleh pengetahuan yang kebenarannya dapat diandalkan, sebab
metode ilmiah menuntut urutan kerja yang objektif, sistematif, dan rasional.
Metode ilmiah dilakukan melalui proses deduksi dan induksi, permasalahan
ditemukan di dalam dunia empiris dan jawabannya juga di cari dalam dunia
empiris melalui proses deduksi dan induksi yang dilakukan secara sistematis.
Langkah-langkah dalam ilmu
pengetahuan : merumuskan masalah, mengumpulkan data, merumuskan hipotesis, membuat
analisis untuk mendapatkan kesimpulan, dan penarikan kesimpulan.
PINTU V : EPISTEMOLOGI BAYANI, BURHANI, DAN IRFANI
A. Epistemologi Bayani
Bayani
adalah metode pemikiran khas Arab yang didasarkan atas otoritas teks (nash),
secara langsung (memahami teks
sebagai pengetahuan jadi, dan langsung mengaplikasikan tanpa perlu pemikiran) atau tidak langsung (memahami
teks sebagai pengetahuan mentah sehingga perlu tafsir dan
penalaran).
Sumber
pengetahuan bayani adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah. Selanjutnya
tentang nash Al-Qur’an, meski sebagai sumber utama, tetapi tidak selalu
memberikan ketentuan pasti. Dari segi penunjukkan hukumnya, nash Al-Qur’an bisa
dibagi menjadi dua bagian, yaitu qath’i dan zhanni. Metode dan
pendekatan yang digunakan dalam bayani adalah metode Qiyas dan metode
Istibath/Istdlal.
Corak
epistemologi bayani didukung oleh pola pikir kaum teolog/ ahli kalam, ahli
fiqh, dan ahli bahasa. Pola pikir tekstual bayani lebih dominan secara politis
dan membentuk corak pemikiran keislaman yang hegemonik.
B. Epistemologi
Burhani
Dalam
perspektif logika, burhani adalah aktivitas berpikir untuk menetapkan kebenaran
suatu premis melalui metode penyimpulan, dengan menghubungkan premis tersebut
dengan premis yang lain yang oleh nalar dibenarkan atau telah terbukti
kebenarannya. Sedang dalam pengertian umum, burhani adalah aktivitasnalar yang
menetapkan kebenaran suatu premis.
Menurut
sejarah munculnya metode pemikiran burhani, dasar logika yang paling berpengaruh
didalamnya adalah logika Aristoteles. Logika Aristoteles sering disebut sebagai
logika tradisionalis, logika formal, atau logika deduktif. Salah satu ajaran
penting dalam logika Aristoteles adalah silogisme.
C.
Epistemologi Irfani
Secara epistemologis, irfani
merupakan pengetahuan yang diperoleh dengan cara pengolahan batin-ruhani, yang
kemudian diungkapkan secara logis. Sumber asal
irfani: para ahli berbeda pendapat tentang asal sumber irfan:
dari sumber Persia dan Majusi, dari sumber-sumber Kristen, ditimba dari India, dari
sumber-sumber Yunani, khususnya Neo-Platonisme dan Hermes.
Konsep epistemologi irfani : pengetahuan irfani diperoleh dengan olah ruhani,
dimana dengan kesucian hati, diharapkan Tuhan akan melimpahkan pengetahuan
langsung kepadanya. Masuk dalam pikiran, dikonsep kemudian dikemukakan kepada
orang lain secara logis. Dengan demikian pengetahuan irfani setidaknya
diperoleh melalui tiga tahapan, yakni: persiapan, penerimaan, dan pengungkapan.
PINTU VI : ILMU PENGETAHUAN DALAM PERSPEKTIF ISLAM
A.
Masa Inkubasi dan Masa Intelektual Islam
Masa dinasti
Umayyah meletakkan dasar-dasar bagi kemajuan pendidikan sehingga disebut masa
inkubasi.Sejarah mencatat bahwa pendidikan Islam terus mengalami dinamika
perubahan dan inovasi sebagai hasil dari kreativitas rekonstruksi konsep yang
dilakukan oleh para pelaku sejarah.
Pendidikan Islam
telah berlangsung kurang lebih 14 abad. Setelah Rasulullah wafat, pendidikan
Islam berkembang. Misalnya kurikulum pendidikan yang ditambah dengan ilmu-ilmu
baru yang berasal dari Jazirah Arab yang telah mengalami kontak dengan Islam
dalam bentuk peperangan dan hubungan damai, juga diiringi dengan munculnya
tokoh-tokoh pemikir kependidikan Islam, seperti Ibnu Khaldun, Hasan Al-Banna,
dll. Pemikiran mereka dijadikan acuan dalam pengembangan pendidikan Islam
sampai sekarang.
B.
Tujuan Pemikiran Pendidikan Islam :
1.
Membangun
kebiasaan berfikir ilmiah, dinamis, dan kritis.
2.
memberikan
dasar berfikir inklusif terhadap ajaran Islam.
3.
Menumbuhkan
semangat berijtihad.
4.
Memberikan
kontribusi pemikiran.
C.
Eksistensi
Pendidikan Islam
Eksistensi
pendidikan merupakan salah satu syarat yang mendasar untuk meneruskan dan
mengekalkan kebudayaan manusia. Fungsi pendidikan berupaya menyesuaikan
kebudayaan lama dengan kebudayaan baru secara proporsional dan dinamis. Wacana
pemikiran pendidikan Islam masa Nabi memiliki perhatian terhadap ilmu
pengetahuan sangat tinggi, sesuai dengan kemungkinan kondisi sosial waktu itu.
Ketika di Mekkah, proses pendidikan Islam dilakukan Nabi dan para pengikutnya di
dar al-arqam, sebagai pusat
pendidikan dan dakwah.
D.
Masa Renaisans dan Modern
Renaisans adalah
periode perkembangan peradaban yang terletak di ujung atau sesudah abad
kegelapan sampai muncul abad modern, merupakan era sejarah yang penuh dengan
kemajuan dan perubahan. Ciri utamanya yaitu humanisme, individualisme,
sekulerisme, empirisme, dan rasionalisme. Sains berkembang, sementara Kristen
semakin ditinggalkan. Berkembangnya pemikiran Yunani di Eropa melalui
terjemahan-terjemahan Arab yang dipelajari dan diterjemahkan kembali ke dalam
bahasa latin.
E.
Dinamika Pemikiran Intelektual
Dinamika
pemikiran intelektual muslim merupakan hasil refleksi terhadap kondisi umat
Islam pada zamannya. Sederetan intelektual muslim telah berupaya merekonstruksi
guna terciptanya sistem pendidikan Islam yang ideal. Kelompok intelektuan
muslim itu antara lain : Ibnu Maskawih, Ibnu Sina, Ibn Khaldum, Muhammad Abdus
Ibn Hasan Khairuddin, Ismail Raji al-Faruqi, Syed Muhammad Waquib al-Attas.
F.
Perkembangan Ilmu di Dunia Islam
Menurut Harun
Nasution, keilmuan berkembang pada zaman Islam klasik (650-1250) yang
dipengaruhi oleh persepsi tentang tingginya kedudukan akal seperti dalam
al-Qur’an dan hadits. Sekitar abad 6-7 M, kemajuan ilmu pengetahuan berada di
pangkuan peradaban Islam seperti dalam bidang kedokteran, aljabar, arithmetics,
kimia, ilmu alam, serta logika dan filsafat.
G.
Peranan Islam dalam Perkembangan Ilmu Pengetahuan
Spanyol Islam
telah mencatat satu lembaran budaya yang sangat brilian dalam bentangan sejarah
Islam dan berperan sebagai jembatan penyebrangan yang dilalui ilmu pengetahuan
Yunani-Arab ke Eropa pada abad ke-12 M. Kemajuan Islam ini bertahan hingga
beberapa abad sebelum akhirnya meredup seiring dengan runtuhnya dinasti Umayyah
dan dinasti Abbasiyah.
Tokoh utama dan
pertama dalam sejarah filsafat Arab-Spanyol adalah Ibn Bajjah. Masalah yang
dikemukakannya bersifat etis dan eskatalogis. Magnum opusnya adalah tadbir
al-Mutawahhid. Tokoh utama kedua adalah Abu Bakr ibn Thufail. Ia banyak
menulis masalah kedokteran, astronomi, dan filsafat. Karyanya adalah Hay ibn Yaqzhan.
Walaupun Islam
akhirnya terusir dari negeri Spanyol, tetapi ia telah membidangi
gerakan-gerakan penting di Eropa, yaitu kebangkitan kembali kebudayaan Yunani
klasik (renaisance) pada abad ke-14 M, rasionalisme pada abad ke-17 M, dan
pencerahan (aufklarung) pada abad ke-18 M. Meskipun kelahiran ilmu pengetahuan
bersumber dari Yunani Kuno, namun perkembangannya justru dimulai sejak masa
keemasan dunia Islam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar