Senin, 05 Desember 2016

RESUME EPISTEMOLOGI FILSAFAT ILMU


RESUME EPISTEMOLOGI FILSAFAT ILMU

PINTU 1: PENGETAHUAN,ILMU PENGETAHUAN,dan FILSAFAT ILMU

Menurut Limas Dodi, Filsafat Ilmu merupakan telaah kefilsafatan yang ingin menjawab pertanyaan mengenai hakikat ilmu, yang ditinjau dari segi ontologis maupun aksiologisnya. Suatu nilai belum tentu ilmu, tetapi ilmu itu bernilai. Sesuatu dikatakan ilmu apabila mempunyai syarat-syarat empiris (dapat diterima panca indera), sistematis, objektif, dapat dianalisis dan verifikatif.
Penemuan kebenaran : kebenaran ilmiah harus ada rasa sulit, dapat mendefinisikan apa yang sedang dipikirkan, membangun rekaan pemecahan, mencari bukti, dan menarik kesimpulan.

Filsafat ilmu pada prinsipnya memiliki dua obyek substantif (fakta dan kebenaran)  dan dua obyek instrumentatif (konfirmasi dan logika). Sedangkan ruang lingkup filsafat ilmu ada dua yaitu objek material dan objek formal.

PINTU II : Sistematika Filsafat

A.    Epistemologi
Epistemologi adalah suatu teori pengetahuan yang membahas berbagai segi pengetahuan seperti: kemungkinan, asal mula, sifat alami, batas-batas, asumsi, dan landasan,validitas,dan reliabilitas,sampai pada soal kebenaran.
M. Arifin merinci ruang lingkup epistemologi, meliputi hakekat,sumber, dan validitas pengetahuan.epistemologi dibedakan menjadi tiga yaitu: pertama,epistemologi metafisis yaitu epistemologi yang mendekati gejala pengetahuan dengan bertitik tolak dari pengandaian metafisis tertentu. Kedua  epistemologi skeptis, perlu membuktikan apa yang diketahui sebagai sunguh nyata atau benar-benar tak dapat diragukan lagi dengan menganggap sebagai tidak nyata atau keliru segala sesuatu yang kebenarannya masih dapat diragukan. Ketiga, epistemologi kritis yaitu berangkat dari asumsi,prsedur, dan kesimpulan pemikiran akal sehat.lalu kita coba tanggapi secara kritis asumsi,prosedur, dan kesimpulan tersebut.
B.     Ontologi
 Ontologi artinya hakikat sesuatu,jadi ontologi adalah pemikiran mengenai yang ada dan keberadaan. Beberapa aliran-aliran dalam Ontologi, yaitu: Ontologi yang bersahaja, Ontologi kualitatif dan kuantitatif, Ontologi monistik. Ontologi berdasarkan cara menyelesaikan permasalahan yang dihadapi sebagai berikut: Naturalisme, Materialisme, Idealisme, Dualisme, Agnotisisme.
C.    Aksiologi
Aksiologi adalah kegunaan ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia, kajian tentang nilai-nilai khususnya etika.  Menurut Bramel dalam Amsal, Aksiologi terbagi tiga bagian, yaitu: Moral Conduct, Estetic Expression, Socio-Political life.
Nilai itu bersifat obyektif,tapi kadang bersifat subyektif.dikatakan obyektif jika,nilai tidak tergantung pada pad subyek atau kesadaran yang menilai.kebenaran tidak tidak tergantung pada kebenaran individu tetapi pada obyektivitas fakta.nilai menjadi subyektif apabila,subyek berperan dalam memberi penilaian,kesadaran manusia menjadi tolak ukur penilaian.

PINTU III : Rasionalisme,Empirisme dan Kritisisme
A.    Rasionalisme
Menyatakan bahwa akal adalah dasar kepastian pengetahuan.pengetahuan yang benar diperoleh dan diukur dengan akal.para penganur rasionalisme percaya bahwa kebenaran dan kesesatan terletak dalam ide dan bukannya di dalam diri barang sesuatu. Aliran Rasionalisme berpendapat bahwa,sumber pengetahuan yang mencukupi dan dapat dipercaya adalah rasio (akal).Tokoh-tokoh filsafat Rasionalisme diantaranya: Rene Descartes (1596-1650), Gootfried Eihelm Von Leibniz, Blaise Pascal (1623-1662 M), dan Spinoza (1632-1677).
B.     Empirisme
Empirisme adalah pengalaman inderawi,John Locke (1632-1704) mengemukakan teori tabula rasa.maksudnya manusia kosong dari pengetahuan dan yang mengisi adalah pengalaman.sumber penetahuan adalah pengamatan,pengamatan memberikan dua hal,yaitu:kesan-kesan dan ide-ide(gambaran kesan).Tokoh aliran Empiris antara lain: Francis Bacon (1210-1292M), Thommas Hobbes (1588-1679 M), John Locke (1632-1704 M),David Hume (1711-1776 M),Herbert Spencer (1820-1903 M).
C.    Kritisisme
Kritisisme adalah filsafat yang di introdusir oleh Immanuel Kant,pertentangan antara rasionalisme dan empirisme dicoba untuk diselesaikan oleh Kant dengan Kritisisme.
1.      Kritik terhadap rasionalisme: kritik atas rasio murni, kritik atas rasio praktis, kritik atas daya pertimbangan.
2.      Kritik terhadap empirisme: empirisme didasarkan pada pengalaman.
3.      Kombinasi antara rasionalisme dan empirisme: ilmu pada dasarnya adalah metode induktif-empiris dalam memperleh pengetahuan.
Pintu IV : Metodologi ilmu pengetahuan

Metode adalah cara-cara penyelidikan bersifat keilmuan, yang sering disebut metode ilmiah (science methods). Metode ini perlu, agar tujuan keilmuan yang berupa kebenaran objektif dan dapat dibuktikan bisa tercapai. Pengetahuan adalah suatu pemikiran yang dapat diketahui langsung dari pengalaman berdasarkan panca indera, pengetahuan memerlukan bukti yang ilmiah untuk pembuktiannya. Sedangkan metodologi adalah pengkajian mengenai model atau bentuk metode-metode, aturan-aturan yang harus dipakai dalam kegiatan ilmu pengetahuan. Jika dibandingkan antara metode dan metodologi, maka metodologi lebih bersifat umum dan metode lebih bersifat khusus.
Beberapa metode yang digunakan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan adalah metode observasi, metode trial and error, metode eksperimen, metode statistic, dan metode sampling. Dengan metode ilmiah akan diperoleh pengetahuan yang kebenarannya dapat diandalkan, sebab metode ilmiah menuntut urutan kerja yang objektif, sistematif, dan rasional. Metode ilmiah dilakukan melalui proses deduksi dan induksi, permasalahan ditemukan di dalam dunia empiris dan jawabannya juga di cari dalam dunia empiris melalui proses deduksi dan induksi yang dilakukan secara sistematis.
Langkah-langkah dalam ilmu pengetahuan : merumuskan masalah, mengumpulkan data, merumuskan hipotesis, membuat analisis untuk mendapatkan kesimpulan, dan penarikan kesimpulan.

PINTU V : EPISTEMOLOGI BAYANI, BURHANI, DAN IRFANI

A.    Epistemologi Bayani
Bayani adalah metode pemikiran khas Arab yang didasarkan atas otoritas teks (nash), secara langsung (memahami teks sebagai pengetahuan jadi, dan langsung mengaplikasikan tanpa perlu pemikiran) atau tidak langsung (memahami teks sebagai pengetahuan mentah sehingga perlu tafsir dan penalaran).
Sumber pengetahuan bayani adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah. Selanjutnya tentang nash Al-Qur’an, meski sebagai sumber utama, tetapi tidak selalu memberikan ketentuan pasti. Dari segi penunjukkan hukumnya, nash Al-Qur’an bisa dibagi menjadi dua bagian, yaitu qath’i dan zhanni. Metode dan pendekatan yang digunakan dalam bayani adalah metode Qiyas dan metode Istibath/Istdlal.
Corak epistemologi bayani didukung oleh pola pikir kaum teolog/ ahli kalam, ahli fiqh, dan ahli bahasa. Pola pikir tekstual bayani lebih dominan secara politis dan membentuk corak pemikiran keislaman yang hegemonik.
B.     Epistemologi Burhani
Dalam perspektif logika, burhani adalah aktivitas berpikir untuk menetapkan kebenaran suatu premis melalui metode penyimpulan, dengan menghubungkan premis tersebut dengan premis yang lain yang oleh nalar dibenarkan atau telah terbukti kebenarannya. Sedang dalam pengertian umum, burhani adalah aktivitasnalar yang menetapkan kebenaran suatu premis.
Menurut sejarah munculnya metode pemikiran burhani, dasar logika yang paling berpengaruh didalamnya adalah logika Aristoteles. Logika Aristoteles sering disebut sebagai logika tradisionalis, logika formal, atau logika deduktif. Salah satu ajaran penting dalam logika Aristoteles adalah silogisme.
C.    Epistemologi Irfani
Secara epistemologis, irfani merupakan pengetahuan yang diperoleh dengan cara pengolahan batin-ruhani, yang kemudian diungkapkan secara logis. Sumber asal irfani: para ahli berbeda pendapat tentang asal sumber irfan: dari sumber Persia dan Majusi, dari sumber-sumber Kristen, ditimba dari India, dari sumber-sumber Yunani, khususnya Neo-Platonisme dan Hermes.
Konsep epistemologi irfani : pengetahuan irfani diperoleh dengan olah ruhani, dimana dengan kesucian hati, diharapkan Tuhan akan melimpahkan pengetahuan langsung kepadanya. Masuk dalam pikiran, dikonsep kemudian dikemukakan kepada orang lain secara logis. Dengan demikian pengetahuan irfani setidaknya diperoleh melalui tiga tahapan, yakni: persiapan, penerimaan, dan pengungkapan.

PINTU VI : ILMU PENGETAHUAN DALAM PERSPEKTIF ISLAM

A.    Masa Inkubasi dan Masa Intelektual Islam
Masa dinasti Umayyah meletakkan dasar-dasar bagi kemajuan pendidikan sehingga disebut masa inkubasi.Sejarah mencatat bahwa pendidikan Islam terus mengalami dinamika perubahan dan inovasi sebagai hasil dari kreativitas rekonstruksi konsep yang dilakukan oleh para pelaku sejarah.
Pendidikan Islam telah berlangsung kurang lebih 14 abad. Setelah Rasulullah wafat, pendidikan Islam berkembang. Misalnya kurikulum pendidikan yang ditambah dengan ilmu-ilmu baru yang berasal dari Jazirah Arab yang telah mengalami kontak dengan Islam dalam bentuk peperangan dan hubungan damai, juga diiringi dengan munculnya tokoh-tokoh pemikir kependidikan Islam, seperti Ibnu Khaldun, Hasan Al-Banna, dll. Pemikiran mereka dijadikan acuan dalam pengembangan pendidikan Islam sampai sekarang.
B.     Tujuan Pemikiran Pendidikan Islam :
1.      Membangun kebiasaan berfikir ilmiah, dinamis, dan kritis.
2.      memberikan dasar berfikir inklusif terhadap ajaran Islam.
3.      Menumbuhkan semangat berijtihad.
4.      Memberikan kontribusi pemikiran.
C.     Eksistensi Pendidikan Islam
Eksistensi pendidikan merupakan salah satu syarat yang mendasar untuk meneruskan dan mengekalkan kebudayaan manusia. Fungsi pendidikan berupaya menyesuaikan kebudayaan lama dengan kebudayaan baru secara proporsional dan dinamis. Wacana pemikiran pendidikan Islam masa Nabi memiliki perhatian terhadap ilmu pengetahuan sangat tinggi, sesuai dengan kemungkinan kondisi sosial waktu itu. Ketika di Mekkah, proses pendidikan Islam dilakukan Nabi dan para pengikutnya di dar al-arqam, sebagai pusat pendidikan dan dakwah.
D.    Masa Renaisans dan Modern
Renaisans adalah periode perkembangan peradaban yang terletak di ujung atau sesudah abad kegelapan sampai muncul abad modern, merupakan era sejarah yang penuh dengan kemajuan dan perubahan. Ciri utamanya yaitu humanisme, individualisme, sekulerisme, empirisme, dan rasionalisme. Sains berkembang, sementara Kristen semakin ditinggalkan. Berkembangnya pemikiran Yunani di Eropa melalui terjemahan-terjemahan Arab yang dipelajari dan diterjemahkan kembali ke dalam bahasa latin.
E.     Dinamika Pemikiran Intelektual
Dinamika pemikiran intelektual muslim merupakan hasil refleksi terhadap kondisi umat Islam pada zamannya. Sederetan intelektual muslim telah berupaya merekonstruksi guna terciptanya sistem pendidikan Islam yang ideal. Kelompok intelektuan muslim itu antara lain : Ibnu Maskawih, Ibnu Sina, Ibn Khaldum, Muhammad Abdus Ibn Hasan Khairuddin, Ismail Raji al-Faruqi, Syed Muhammad Waquib al-Attas.
F.     Perkembangan Ilmu di Dunia Islam
Menurut Harun Nasution, keilmuan berkembang pada zaman Islam klasik (650-1250) yang dipengaruhi oleh persepsi tentang tingginya kedudukan akal seperti dalam al-Qur’an dan hadits. Sekitar abad 6-7 M, kemajuan ilmu pengetahuan berada di pangkuan peradaban Islam seperti dalam bidang kedokteran, aljabar, arithmetics, kimia, ilmu alam, serta logika dan filsafat.
G.    Peranan Islam dalam Perkembangan Ilmu Pengetahuan
Spanyol Islam telah mencatat satu lembaran budaya yang sangat brilian dalam bentangan sejarah Islam dan berperan sebagai jembatan penyebrangan yang dilalui ilmu pengetahuan Yunani-Arab ke Eropa pada abad ke-12 M. Kemajuan Islam ini bertahan hingga beberapa abad sebelum akhirnya meredup seiring dengan runtuhnya dinasti Umayyah dan dinasti Abbasiyah.
Tokoh utama dan pertama dalam sejarah filsafat Arab-Spanyol adalah Ibn Bajjah. Masalah yang dikemukakannya bersifat etis dan eskatalogis. Magnum opusnya adalah tadbir al-Mutawahhid. Tokoh utama kedua adalah Abu Bakr ibn Thufail. Ia banyak menulis masalah kedokteran, astronomi, dan filsafat. Karyanya adalah Hay ibn Yaqzhan.
Walaupun Islam akhirnya terusir dari negeri Spanyol, tetapi ia telah membidangi gerakan-gerakan penting di Eropa, yaitu kebangkitan kembali kebudayaan Yunani klasik (renaisance) pada abad ke-14 M, rasionalisme pada abad ke-17 M, dan pencerahan (aufklarung) pada abad ke-18 M. Meskipun kelahiran ilmu pengetahuan bersumber dari Yunani Kuno, namun perkembangannya justru dimulai sejak masa keemasan dunia Islam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar